Perlunya Mengenal Definisi, Faktor Pemicu, Gejala, dan Penyebab Hyperplasia Endometrium

penebalan dinding rahim alias hiperplasia endometrium

sumber gambar: id.theasianparent.com

Berdasarkan referensi dari artikel hellosehat.com, definisi hyperplasia endometrium adalah masalah kesehatan yang ditandai dengan adanya penebalan pada lapisan dinding rahim (endometrium) akibat dari pertumbuhan sel yang berlebih. Dokter dari Brawijaya Women and Children Hospital yaitu Prof. Dr. dr. Ali Baziad, SpOG(K) menyatakan bahwa normalnya dinding rahim memiliki ketebalan 8 mm. Jika ketebalan endometrium melebihi itu maka dikatakan tidak normal. Bersumber dari honesdocs.id, ketebalan endometrium dapat diukur melalui USG Transvaginal. Meskipun penyakit ini bukan tergolong kanker akan tetapi ada beberapa kasus yang mampu menjadi pemicu terkena kanker rahim. Melihat kondisi endometrium yang seperti demikian membuat siklus menstruasi berubah ubah. Sebab ketidakstabilan tersebut dianggap sebagai respon terhadap hormon.

Sebagian besar kasus hiperplasia endometrium terjadi akibat kandungan estrogen yang berlebih. Faktor pemicu terjadinya hyperplasia endometrium adalah memiliki riwayat penyakit pribadi tertentu, seperti tiroid, kantung empedu, diabetes melitus, atau polycystic ovary syndrome (PCOS). Adapun riwayat penyakit keluarga untuk masalah rahim, usus besar, atau kanker indung telur patut diwaspadai. Selain itu, seseorang yang kegemukan (obesitas), sering merokok, berkulit putih, dan tidak pernah hamil sebelumnya juga menjadi pemicu terjadinya penyakit ini. Berhati-hatilah jika anda mengonsumsi oat-obatan yang berperan seperti estrogen.

Penyebab hyperplasia endometrium adalah sebagai berikut.

  1. Obat perawatan untuk penderita kanker payudara, yaitu tamoxifen.
  2. Hormon estrogen yang berlebih, baik itu obat kontrasepsi ataupun pil. Apabila penebalan dinding rahim akibat estrogen semakin tidak terkendali maka akan terjadi ketidakseimbangan sehingga menyebabkan kanker rahim. Oleh sebab itu, hiperplasia sering dianggap sebagai keadaan pre-kanker.
  3. Perempuan mendekati masa menopause (ovulasi tidak teratur). Adapun masa setelah menopause memiliki resiko lebih banyak terhadap hiperplasia.
  4. Seseorang yang sempat menjalani terapi pergantian estrogen namun tidak melengkapi dengan progrestin.
  5. Remaja yang baru pertama mengalami menstruasi tapi memiliki pola yang tidak teratur.
  6. Seseorang yang jarang menghasilkan progesteron.

Laman klikdokter.com menyebutkan bahwa gejala mengalami hyperplasia endometrium adalah mengalami pendarahan dari vagina meskipun sudah melewati menopause. Umumnya, pendarahan abnormal terjadi pada uterus. Dari sisi menstruasi, terjadi pendarahan dengan periode yang lebih lama (lebih dari 10 hari) dan lebih hebat daripada biasanya. Kemudian memiliki siklus menstruasi yang pendek yaitu sekitar 21 hari dari pertama periode menstruasi hingga hari pertama periode menstruasi selanjutnya (wajarnya 28 – 30 hari sekali). Adanya perdarahan yang banyak pada wanita juga sebaiknya berhati-hati sebab ketika seseorang kehilangan banyak darah akan mengalami anemia. Maka tidak heran pasien akan merasa pusing, capek, pucat, lemah, dan berkunang-kunang. Namun ingat bahwasannya respon tubuh terhadap suatu penyakit berbeda-beda. Jadi gejala ini tidak dapat menjadi patokan untuk identifikasi penyakit ini. Bisa jadi penderita mengalami gejala lain sehingga tetap disarankan untuk berdiskusi masalah kesehatan anda dengan dokter.

Penyembuhan yang dapat dilakukan bagi penderita hyperplasia endometrium adalah preparat progestrin. Penyembuhan ini berupa obat berbentuk tablet yang dapat dikonsumsi dengan meminumnya, krim vagina, alat kontrasepsi, oral, atau suntikan. Cara konsumsi ini juga disesuaikan dengan kondisi pasien. Misalnya apabila pasien sedang dalam masa menstruasi jangan mengonsumsinya karena cenderung pendarahan pada vagina akan semakin banyak. Sumber klikdokter.com juga menjelaskan bahwa penyembuhan lainnya dengan tindakan kuretase. Caranya yaitu melakukan pengerokan pada jaringan endometrium supaya ketebalan dinding rahim berkurang. Dapat dilakukan bersamaan tindakan biopsi. Fatalnya, jika penyakit ini mengarah ke kanker maka diwajibkan untuk melakukan operasi pengangkatan rahim (histerektomi). Terutama bagi pasien wanita yang memang sudah tidak berencana memiliki momongan. Histerektomi juga dianjurkan untuk dipilih ketika pasien mengalami hiperplasia atipikal.

Leave a Reply

Comment
Name*
Mail*
Website*